Fenomena Malam dan Siang dalam Perspektif Al Qur’an dan Sains

Fenomena Malam dan Siang dalam Perspektif Al Qur’an dan Sains

Abstrak

Malam dan siang merupakan pemandangan yang kerap dengan kehidupan. Dimana perjalanan hidup ini tidak lepas dari senantiasa melalui dua pemandangan ini. Masing-masing memiliki fungsi dalam rangka kemaksimalan dan  keberlangsungan hidup. Malam untuk istirahat dari lelahnya aktifitas siang dan siang untuk mencari penghidupan. Malam sejuk, senyap dan gelap sehingga identic dengan aktifitas utama yaitu istirahat dan siang ramai, terang benderang dan hangat yang mendukung aktifitas utama di siang hari yaitu bekerja dalam rangka berkehidupan.

Dibalik fenomena bergantinya siang dan malam ini ternyata terdapat pemandangan yang menakjubkan melebihi dari ketaajuban fenomena kasap mata. Terjadinya fenomena ini bukan terjadi begitu saja tanpa ada sebab sehingga wujudnya siang dan malam.

Al Qur’an dalam hal ini telah menuntun umat untuk dapat memaksimalkan kualitas diri sebagai kholifah di muka bumi melalui gejala alam diantaranya peristiwa silih bergantinya malam. Al Qur’an menegaskan bahwa ini semua ini ditundukkan demi maslahat manusia. Kalam Allah ini memberikan pengajaran untuk membangkitkan kesadaran melalui pemahaman yang sebenarnya bahwa dengan kekuasaan Allah lah semua ini terjadi.

Kebenaran apa yang diajarkan Allah melalui kalam Nya yaitu Al Qur’an ternyata berselaras dengan kebenaran-kebenaran melalui pintu sains. Yang sepatutnya ini menjadi penguat keimana terhadap Allah dan firman Nya. Hingga akhirnya dapat dipahami bahwa memang orang yang berilmu lah yang dapat merasakan kebesaran Allah Sang Pencipta.

 

Kata Kunci: Malam, Siang, Al Qur’an, dan Sains

 

 

 

 

  1. Muqaddimah

Pemandangan silih bergantinya malam dan siang kerap kali diabaikan begitu saja tanpa adanya perhatian sebagaimana mestinya. Malam dan siang hanya dirasakan sebagai proses pemandangan terang dan gelap akibat perjalanan matahari dari terbit hingga terbenam.  Tidak lebih sekedar aktifitas mata dan tidak ada upaya untuk mensikronkan gejala dengan maslahat kehidupan. Yang tentunya dengan upaya itu diharapkan akan dapat menambah kualitas hidup apalagi dalam keyakinan seorang muslim bahwa dunia itu adalah ladang untuk akhirat. Dimana kebaikan yang dilakukan oleh seseorang akan mendapatkan balasan kebaikan pula.

Al Qur’an dalam hal ini telah memberikan arahan bagaimana bersikap bijak dengan fenomena yang ada termasuk didalamnya mengenai silih bergantinya malam dan siang. Penjabaran mengenai malam dan siang ini akan membuka bukan hanya mata untuk melihat tapi pandangan dan wawasan (mindset) yang dapat menggerakkan diri kepada arah perbaikan. Sehingga dengan demikian dapat mendudukkan segala sesuatunya pada posisi yang benar. Dan inilah makna dari kebenaran yang ditemukan sehingga bisa merasakan kebesaran Tuhan., Allah Swt.

Apa yang difirmankan Allah Swt dalam Al Qur’an bukan hanya pada tataran keimanan yang itu dinyatakan kebenaran absolut, tapi data ilmiah membuktikan kebenaran wahyu yang awal mulanya diyakini melalui pintu keimanan. Disinilah posisi sains menjadi bukti kebenaran wahyu dalam Al Qur’an. Yang bisa jadi ketika wahyu diturunkan masyarakat belum memahami kebenaran ini, hingga akhirnya dapat ditemukan sejalan dengan perkembangan pengetahuan dan teknologi. Itulah diantara sekian bukti tidak adanya kontradiktif antara wahyu dan akal. Bahkan memang semuanya itu merupakan ayat-ayat yang dapat mengabarkan kepada kebenaran hakiki.

 

  1. Malam dan Siang dalam Al Qur’an

Ayat-ayat Allah ada yang berupa kalam dan ada yang berupa alam. Itulah yang dikenal dengan nama ayat qouliyyah dan ayat kauniyyah. Hubungan antara keduanya jelas saling menjelaskan. Pemahaman ayat quliyyah bisa jadi tidak akan bisa maksimal kecuali dengan memahami ayat kauniyyah demikian juga sebaliknya.

Dalam Al Qur’an akan didapati banyak ayat yang mengangkat diantara sekian banyak ayat kauniyyah yang diantaranya tentang malam dan siang. Berikut ini adalah beberapa ayat dalam Al Qur’an yang menunjukkan waktu malam, siang, atau bagian dari malam dan siang:

 

  1. Al Lail ( الليل )

Kata ini banyak tersebar di beberapa ayat, diantaranya: Al Baqarah: 52, 164, 187, 274, Ali Imran: 27, 133, 190, Al An’am: 13, 60, 76, 96, Al A’raf: 142, Yunus: 6, 24, 67, Hud: 81, 114, Ar Ra’d: 3, 10, Ibrahim: 33, Al Hijr: 65, An Nahl: 12, Al Isra: 1, 12, 78, 79, Toha: 130, Al Anbiya: 20, 33, 42, Al Hajj: 61, Al Mu’minuun: 80, An Nur: 44, Al furqan: 47, 62, An Naml: 86, Al Qasas: 71, 72, 73, Ar Rum: 23, Luqman: 29, Saba: 33, Fathir: 13, Yasin: 37, 40, 138, Az Zumar: 5, 9, Ghafir: 61, Fushshilat: 37, 38, Ad Dukhan: 3, 23, Al Jasyiyah: 5, Qaf: 40, Ad Dzariyat: 17, At Thur: 49, Al Hadid: 6, Nuh: 5, Al Muzammil: 2, 6, 20, Al Mudatsir: 33, Al Insan: 26, An Naba: 10, At Takwir: 17, Al Insyiqaq: 17, Al Fajr: 4, Asy Syams: 4, Al Lail: 1, Ad Dhuha: 2, dan Al Qadr: 1, 2, 3.

 

  1. Al Ashar ( الأسحار ): Akhir Malam/ di Waktu Sahur

Kata ini terletak dalam Surat Ali Imran: 17

 

  1. Bayat ( بيات ): Malam Hari

Malam hari bukan hanya “al lail” tapi juga menggunakan redaksi “bayat”. Kata “bayat” bisa didapat dalam Surat Al A’raf: 24, 97 dan Yunus: 50.

 

  1. An Nahar ( النهار ): Siang

Banyak kata “an Nahar” disebut dalam Al Qur’an. Diantara ayat-ayat yang terkandung kata “an Nahar” sebagai berikut: Al Baqarah: 164, Ali Imran: 27, 72, 190, Al An’am: 13, 60, Yunus: 6, 24, 45, 50, 67, Hud: 114, Ar Ra’d: 3, 10, Ibrahim: 33, An Nahl: 12, Al Isra: 12, Thaha: 130, Al Anbiya: 20,33,42, Al Hajj: 61, Al Mu’minun: 80, An Nur: 44, Al Furqan: 47, 62, An Naml: 86, Al Qashsash: 72, 73, Ar Rum: 23, Luqman: 29, Saba: 33, Fathir: 13, Yasin: 37, 40, Az Zumar: 5, Ghafir: 61, Fushilat: 37, 38, Al Jasyihah: 5, Al Hadid: 6, Nuh: 5, Al Muzammil: 7,20, An Naba: 11, As syams: 3, Al Lail: 2.[1]

 

Berikut ini beberapa tafsiran ayat yang terkandung didalamnya tentang malam dan siang:

  1. Firman Allah Swt dalam surat Al Qashas: 71-72:

قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ اللَّيْلَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِضِيَاءٍ أَفَلَا تَسْمَعُونَ . قُلْ أَرَأَيْتُمْ إِنْ جَعَلَ اللَّهُ عَلَيْكُمُ النَّهَارَ سَرْمَدًا إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ مَنْ إِلَهٌ غَيْرُ اللَّهِ يَأْتِيكُمْ بِلَيْلٍ تَسْكُنُونَ فِيهِ أَفَلَا تُبْصِرُونَ.

“Katakanlah (wahai Muhammad): “Terangkanlah kepadaku jika Allah menjadikan untuk kalian malam itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan bagi kalian sinar yang terang, maka apakah kalian tidak mendengar?

Katakanlah (wahai Muhammad): “Terangkanlah kepadaku jika Allah menjadikan untuk kalian siang itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan bagi kalian malam supaya kalian beristirahat di dalamnya, maka apakah kalian tidak melihat?”

As Sa’diy menjelaskan ayat 71 ini: “bahwa ini adalah anugerah Allah Swt kepada hamba Nya dan menyeru mereka untuk bersyukur kepada Allah, menyembah Nya, dan memenuhi kewajiban-kewajiban terhadap Allah. Dan bahwasanya Allah telah menagnugerahkan untuk manusia rahmat Nya diantaranya adalah siang agar mereka mencari penghidupan dan bertebaran di muka bumi untuk mencari rezeki dibawah sinar siang dan juga anugerah malam agar mereka bisa beristirahat dan menenangkan diri dari lelahnya aktifitas siang. Ini adalah ni’mat dan rahmat Allah terhadap hamba-hamba Nya. Apakah ada seseorang yang mampu melakukan hal itu?

Jika “Allah menjadikan untuk kalian malam itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan bagi kalian sinar yang terang, maka apakah kalian tidak mendengar?” Ini adalah pengajaran Allah dan ayat-ayat Nya. Yang dimaksud disini adalah mendengar dengan pemahaman, menerima dan tunduk patuh.[2]

Dan pada ayat 72, As Sa’di menjelaskan; Seandainya “Allah menjadikan untuk kalian siang itu terus-menerus sampai hari kiamat, siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan bagi kalian malam supaya kalian beristirahat di dalamnya, maka apakah kalian tidak melihat?” ini adalah ranah pembelajaran dan bukti-bukti (al ayaat). Yang dengan ini semua dapat menerangi penglihatan kalian lalu kalian dapat berjalan pada jalan yang benar.

Allah berfirman pada keadaan malam  “maka apakah kalian tidak mendengar? ( أَفَلَا تَسْمَعُونَ )” dan pada keadaan malam menyatakan “maka apakah kalian tidak melihat? ( أَفَلَا تُبْصِرُونَ )” karena kekuatan mendengar lebih memadai di waktu malam dibandingkan kekuatan melihat, demikian juga sebaliknya dengan siang. Dan pada ayat-ayat ini terdapat peringatan kepada manusia agar senantiasa bertadabbur terhadap ni’mat Allah, mengambil petunjuk dari ni’mat tersebut dan menganalogikakannya dengan ketiadaannya. Karena memperbandingkan antara ada dan tidak adanya ni’mat akan menggerakkan akal untuk berfikir terhadap ni’mat tersebut. Berbeda keadaannya dengan orang yang berjalan begitu saja hanya bersentuhan dengan kebiasaan-kebiasaan dan memandang bahwa ini adalah perkara yang senantiasa terus-menerus berjalan. Hatinya buta untuk memuji Allah akan ni’mat Nya dan buta hati akan kebutuhan dirinya terhadap ni’mat tersebut setiap waktu. Model seperti ini tidak akan melahirkan pola pikir bersyukur dan berdzikir.[3]

 

  1. Firman Allah Swt dalam Surat Ali Imran: 190

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ لَآيَاتٍ لِأُولِي الْأَلْبَابِ

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal.

Fenomena yang dapat terdeteksi oleh indra dari berbagai makhluk ciptaan Allah bagi orang yang cerdas tidak mungkin akan lewat begitu saja tanpa ada makna yang dapat dipetik. Dari langit yang terbentang luas dan bumi yang terhampar serta segala isinya berupa matahari, bulan dan gugusan planet dan bintang-bintang semua itu akan menjadi ladang perhatian yang akan melahirkan kebajikan. Paling tidak ujung-ujungnya akan ada rasa keagungan Allah. Itulah dia “ulul albab”. Sebutan yang ditujukan buat mereka yang mau menggunakan anugerah Allah untuk berpikir dan meneliti semua yang ada agar ia mendapat manfaat darilingkungannya.[4] Mereka itulah sosok ilmuan hakiki yang ujungnya adalah mereka   dapat merasakan kebesaran Allah melalui fenomena alam yang ada. Termasuk fenomena yang menjadi pintu keulul albab an seseoranga adalah peristiwa silih bergantinya malam dan siang.

Perubahan dari gelap ke terang, itu sebenarnya merupakan ekses dari sebuah system alam yang dikendalikan oleh Allah Sang Pencipta. Ketika seseorang bisa menembus dibalik fenomena yang tampak bahkan dapat mengambil mafaat dari pengetahuannya itu maka itulah orang yang dapat mengambil manfaat dari fenomena. Memikirkan pergantian siang dan malam, mengikuti terbit dan terbenamnya matahari, siang lebih lama dari malam dan sebaliknya. Semuanya itu menunjukkkan atas kebesaran dan kekuasaan penciptanya bagi orang-orang yang berakal.[5]

 

  1. Firman Allah Swt. dalam Surat Al Hajj: 61:

ذَٰلِكَ بِأَنَّ اللَّهَ يُولِجُ اللَّيْلَ فِي النَّهَارِ وَيُولِجُ النَّهَارَ فِي اللَّيْلِ وَأَنَّ اللَّهَ سَمِيعٌ بَصِيرٌ

Yang demikian itu, adalah karena sesungguhnya Allah (kuasa) memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam dan bahwasanya Allah Maha Mendengar lagi Maha Melihat.

Allah lah Yang mengatur ini semua. Semua ini bukan terjadi begitu saja. Dan maksud dari “memasukkan malam ke dalam siang dan memasukkan siang ke dalam malam” adalah Allah memasukkan bagian malam ke bagian siang dan bagian siang ke bagian malam. Ini menyebabkan terkadang malam lebih Panjang dibandingkan dengan siang sebagaimana terjadi pada musim dingin. Dan terkadang pula menyebabkan siang lebih lama dibandingkan dengan malam sebagaimana terjadi di musim panas.[6]

 

  1. Firman Allah Swt dalam Surat Yunus: 67:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar.

Dia lah yang telah menciptakan malam untuk manusia agar mereka dapat merasakan ketenangan dan kenyamanan artinya mereka beristirahat di waktu itu dari Lelah dan aktifitas mereka. “siang terang benderang” artinya terang benderang untuk kepentiangan kehidupan, usaha, berpergian, dan berbagai kemaslahatan mereka.[7]

 

  1. Firman Allah swt dalam Surat An Naba ayat 9-11:

وَجَعَلْنَا نَوْمَكُمْ سُبَاتًا. وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ لِبَاسًا. وَجَعَلْنَا النَّهَارَ مَعَاشًا

Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat. Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan,

“Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian”,  maksudnya: Kami telah menjadikan tidur sebagai penyegar badan kalian. Sebagai pemutus bagi kesibukan kalian dimana kalian diamankan dari beban pekerjaan di siang hari.

“Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian” maksudnya: Kami telah menjadikan malam seperti pakaian menutupi kalian dengan gelap gulitanya. Seperti itu pula halnya dengan pakaian yang menutupi kalia. Gelapnya malam menutupi kalian sebagaimana pakaian menutupi orang yang memakainya.

“Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan”, maksudnya: “Dan Kami jadikan siang menjadi penyebab terperolehnya penghidupan agar kalian dapat memainkan peran di waktu itu untuk dapat memenuhi kebutuhan hidup. Ibnu Katsir mengatakan kaitan dengan ayat ini: “Kami telah menjadikannya terang benderang agar memungkinkan bagi manusia untuk beraktifitas dengan pergi dan pulang dalam rangka mencari penghidupan, pekerjaan, dan bisnis serta aktifitas lainnya. [8]

Terkait dengan kemanfaatn yang kembali kepada manusia dengan silih bergantinya siang dan malam, hal ini senada pula dengan firman Allah Swt.:

هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَالنَّهَارَ مُبْصِرًا ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ

Dialah yang menjadikan malam bagi kamu supaya kamu beristirahat padanya dan (menjadikan) siang terang benderang (supaya kamu mencari karunia Allah). Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang mendengar. (Yunus: 67)

Allah menciptakan malam dan siang agar terciptanya kesimbangan hidup makhluk Nya. Siang hari Allah jadikan sebagai sarana berkaktivitas, sementara malam hari Allah jadikan sebagai sarana beristirahat.[9]

Termasuk juga akibat silih bergantinya malam dan siang ini menyebabkan terjadinya dua musim yang menurut kebiasaan suku Quraisy ketika musim dingin mereka melakukan perniagaan ke Yaman dan ketika musim panas mereka melakukan perniagaan ke Syam. Sebagaimana tertera dalam Surat Quraisy: 1-2:

لإيلاف قريش  . إِۦلَٰفِهِمْ رِحْلَةَ ٱلشِّتَآءِ وَٱلصَّيْفِ

Karena kebiasaan orang-orang Quraisy.  (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas.

Semua anugerah ini termasuk didalamya silih bergantinya malam dan siang adalah untuk manusia. Sebagaimana firman Allah Swt.:

وَسَخَّرَ لَكُمُ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ دَائِبَيْنِ ۖ وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ

Dan Dia telah menundukkan (pula) bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. (Q.S. Ibrahim: 33)

Terus menerus keduanya mengupayakan dalam rangka kemaslahatan kalian dari hitungan waktu, kemaslahatan badan, hewan, tanam-tanaman, dan buaha-buahan kalian.

“Dan telah menundukkan bagimu malam” maksudnya agar kalian menjadi tenang, dan “siang” terang benderang agar kalian dapat memperoleh penghidupan kalian.[10]

Dan bagi orang yang menggunakan akalnya silih bergantinya malam dan siang ini bukan hanya saja dapat memberikan arti dalam rangka kemaslahatan hidup yaitu mencari penghidupan di waktu siang dan istirahat di waktu malam, namun juga bisa merasakan kenikmatan yang lebih dari itu yaitu merasakan kebesaran Allah yang akan menghantarkan sosok manusia kepada kesolihan dirinya. Allah Swt. berfirman:

وَسَخَّرَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ ۖ وَالنُّجُومُ مُسَخَّرَاتٌ بِأَمْرِهِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ

Dan Dia menundukkan malam dan siang, matahari dan bulan untukmu. Dan bintang-bintang itu ditundukkan (untukmu) dengan perintah-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang memahami(nya). (Q.S: An Nahl: 12)

Makhluk menunjukkan adanya Al Kholiq. Sementara Al Kholiq adalah ghoib dihadapan manusia. “Mencari bukti adanya Yang Ghaib tidak mungkin kecuali melalui sesuatu yang dapat dideteksi oleh indera (asy syahid). Dan yang dapat terdeteksi oleh indera tidak mungkin dapat digapai kecuali itu adalah alam fisik (al alam al jismani) yang meliputi dua bagian: sederhana dan kompleks. Alam fisik yang sederhana terbagi kepada dua: benda yang ada diatas yang diindikasikan dengan firman Allah “was samaa’I” dan benda yang berada di bawah yang diindikasikan lewat firman Nya “wal Ardh”. Adapun yang kompleks (murakkab) banyak bagian. Bagian yang paling tinggi adalah jiwa yang diindikasikan dengan firman Nya “wa nafsiw wa maa sawwaaha”.”[11]

 

  1. Malam dan Siang dalam Perspektif Sains

Secara kasap mata, malam adalah waktu dimana pemandangan terlihat gelap dan siang tampak terang. Itulah memang realita yang ada. Sebagaimana juga dalam pemandangan yang ada seakan mataharilah yang bergerak dari timur ke barat yang ditandai dengan terbit dan terbenamnya matahari. Artinya tampak oleh penglihatan manusia bahwa matahari lah yang mengelilingi bumi.

Sebenarnya tidak demikian, silih bergantinya malam dan siang pada hakikatnya merupakan akibat dari berputarnya bumi pada porosnya atau yang disebut dengan rotasi. Arah rotasi bumi sebagaimana bumi mengelilingi matahari atau yang disebut dengan revolusi. Bagian yang terang adalah bagian yang menghadap matahari sedangkan yang gelap adalah bagian yang tertutupi oleh belahan bumi yang menghadap ke matahari. Yang terang inilah dikenal siang dan gelap ini dikenal dengan nama malam. Ibarat bola yang dihadapkan kepada lampu. Lampu adalah matahari sedangkan bola ini seperti bumi. Dimana bagian yang menghadap lampu adalah terang dan yang membelakanginya adalah gelap. Beginilah proses terjadinya silih bergantinya siang dan malam.[12]

Pengaruh rotasi bumi bukan hanya menyebabkan terjadinya silih berganti malam dan siang. Tapi juga menyebabkan hal-hal berikut:

  1. Peredaran semu harian benda-benda langit

Dilihat dari permukaan bumi, benda-benda langit tampak bergerak dari timur ke barat. Matahari contohnya terlihat terbit di sebelah timur dan terbenam di sebelah barat. Pada hakikatnya bukan demikian. Namun bumi lah yang berotasi dari barat ke timur. Ini lah yang sebenarnya atau yang dikenal dengan peredaran harian. Akibat dari rotasi ini jadi tampak pergerakan matahari dari timur ke barat. Gerakan ini adalah gerakan semu, yang tampak oleh penglihat dari muka bumi bukan gerakan yang sesungguhnya.

 

  1. Pembelokan arah angin

Rotasi bumi selain itu juga menyebabkan angin di belahan bumi utara membelok ke kanan dan di belahan bumi selatan angin membelok ke kiri.

 

  1. Perbedaan waktu

Akibat berputarnya bumi pada porosnya dari barat ke timur juga menyebabkan terjadinya perbedaan waktu di wilayah permukaan bumi. Dimana di permukaan bumi terdapat 24 daerah waktu dan setiap daerah besarnya 15°. Standarnya adalah waktu pada bujur 0° terdapat pada wilayah kota Greenwich dekat London atau yang disebut dengan waktu pangkal atau GMT (Greenwich Mean Time).

Sementara itu di Indonesia sendiri terdapat tiga daerah waktu:

  1. Waktu Indonesia Barat (WIB) yang meliputi; Sumatera, Jawa, Madura, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Tengah
  2. Waktu Indonesia Tengah (WITA) yang meliputi; Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan, Sulawesi, Bali, dan Nusa Tengara.
  3. Waktu Indonesia Timur (WIT) yang meliputi: Maluku dan Papua.

 

  1. Pemepatan bumi

Karena rotasi ini pula permukaan bumi tidak mendapat gaya sentrifugal yaitu gaya yang arahnya menjauhi sumbu putar. Dimana di khatulistiwa gaya itu kuat dan di kutub gaya itu nol.[13]

Di sisi lain terkait dengan waktu dalam kehidupan sehari-hari manusia tidak bisa terlepas dari efek perputaran bumi pada porosnya ini. Itulah waktu yang dibutuhkan oleh manusia. Standar pengukuran waktu ini berpatokan kepada peredaran ini. Ada sebutan sehari, semalam dan sehari semalam Yang dalam satu hari dikenal dengan dimulainya terbit matahari hingga terbit kembali. Dihitung dengan jam satu hari adalah 24 jam dan satu jam adalah 60 menit dan 1 menit adalah 60 detik. Walau pun pada kenyataannya terkadang satu hari lebih dari 24 jam dan bisa juga kurang dari itu. Namun ketika diambil rata-rata setahun dalam satu hari terdapat 24 jam.[14]

 

  1. Penutup

Al Qur’an telah menjelaskan bagaiamana sesungguhnya respon manusia terhadap fenomena alama semesta ini termasuk silih bergantinya siang dan malam. Semua itu adalah ni’mat Allah yang dianugerahkan kepada manusia yang keseluruhannya pasti ada manfaat yang kembali untuk kehidupan manusia. Diantara manfaat pokok yang kembali manusia dari silih bergantinya malam sebagaiaman yang nyatakan dalam Al Qur’an adalah siang untuk mencari nafkah dan malam untuk istirahat. Disamping itu secara logika, ketika yang ada hanya siang bisa jadi bumi akan kering karena kepanasan terus atau ketika yang ada hanya malam bisa jadi bumi akan beku karena tidak ada pencahayaan termasuk juga perkembangan makhluk hidup seperti tumbuh-tumbuhan tidak akan tumbuh dengan baik.

Majunya keilmuan manusia telah menyibak kebenaran yang sesungguhnya bahwa apa yang dilihat belum tentu itu yang sesungguhnya sebagaimana gerak matahari dari timur ke barat. Yang sebenarnya bumi lah yang berotasi dan berevolusi sehingg tampak matahari bergerak dari timur ke barat. Semakin dalam pengetahuan manusia semakin dirasakan kebesaran Sang Pencipta Dia lah Allah. Yang telah menetapkan hukum yang menunjukkan ini semua bukan kebetulah tetapi memang diciptakan. Wallah a’lam

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ahmad Syakir, Umdatut Tafsiir ‘Anil Haafizh Ibnu Katsir, Daarul Wafa’, Al Mashurah, Mesir, Cet.2, 2005

 

Ar Razi, Muhammad Fakhruddin bin Al Allaamah Dhiyauddiin Umar, Tafsir Al Fakhr ar Raziy, Daarul Fikr, Libanon, tahun 1995

 

Ash Shobuni, Asy Syaikh Muhammad Ali, Shofwah at Tafaasiir, Daar Ash Shobuni, Kairo, Mesir, Cet. 9, 1397 H

 

As Sa’diy, Syaikh Abdurrahman bin Nashir, Tafsir Ar Rahman fii Tafsiir Al Mannaan, Daar Ihda’ al Mujtama’I, Saudi Arabia, 1416 H

 

Ibnu Katsir, Ismail bin Umar bin Dhou bin Dar’ Al Qurasyi al Bashrawiy Ad Damasyqiy Abul Fida Imaduddin, Tafsir Al Qur’an al Azhim, Maktabah al Iman, Al Mashura,  cet. 1, 1996

 

Kementerian Agama RI; Badan Litbang dan Diklat, Tafsir Ilmi, Waktu dalam Perspektif Al Qur’an dan Sains, Lajnah Pentashih Pentashih Mushaf Al Qur’an, Jakarta, cetakan pertama, tahun 2013

 

Kementerian Agama RI; Badan Litbang dan Diklat, Tafsir Ilmi, Manfaat Benda Benda Langit, Lajnah Pentashih Pentashih Mushaf Al Qur’an, Cetakan Pertama, Jakarta, tahun 2012

 

Kementerian Agama RI, Al Qur’an dan Tafsirnya, Jilid II, Lentera Abadi, Jakarta, 2010

 

Kementerian Agama RI, Tafsir Ilmi; Penciptaan Jagat Raya dalam Persfektif Al Qur’an dan Sains, PT. Sinergi Pustaka Indonesia, tahun 2012

 

Slamet Prawirohartono, dkk, Ilmu Pengetahuan Alam terpadu SMP/Mts kelas IX, Bumi Aksara, 2007

 

http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/saadi

 

 

 

 

[1] Kementerian Agama RI; Badan Litbang dan Diklat, Tafsir Ilmi, Waktu dalam Perspektif Al Qur’an dan Sains, Lajnah Pentashih Pentashih Mushaf Al Qur’an, Cetakan Pertama, tahun 2013, Jakarta, hai. 26-28

[2] http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/saadi/sura28-aya71. Hal. 394

[3] http://quran.ksu.edu.sa/tafseer/saadi/sura28-aya71. Hal. 395

[4] Kementerian Agama RI; Badan Litbang dan Diklat, Tafsir Ilmi, Manfaat Benda-Benda Langit, Lajnah Pentashih Pentashih Mushaf Al Qur’an, Cetakan Pertama, Jakarta, tahun 2012, hai. 6

[5] Kementerian Agama RI, Al Qur’an dan Tafsirnya, Jilid II, Lentera Abadi, Jakarta, 2010, hal. 97

[6] Syeikh Ahmad Syakir, Umdatut Tafsiir ‘Anil Haafizh Ibnu Katsir, Daarul Wafa’, Al Mashurah, Mesir, Cet.2, 2005,   hal. 605

[7] Ismail bin Umar bin Dhou bin Dar’ Al Qurasyi al Bashrawiy Ad Damasyqiy Abul Fida Imaduddin Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’an al Azhim, Maktabah al Iman, Al Mashura,  cet. 1, 1996, juz 4, hal. 109

[8] Asy Syaikh Muhammad Ali Ash Shobuni, Shofwah at Tafaasiir, Daar Ash shobuni, Kairo, Mesir, Cet. 9, 1397 H, Jil.3, hal. 508

[9] Kementerian Agama RI; Badan Litbang dan Diklat, Tafsir Ilmi, Waktu dalam Perspektif Al Qur’an dan Sains, Lajnah Pentashih Pentashih Mushaf Al Qur’an, Cetakan Pertama, Jakarta, tahun 2013, hai. 28

[10] Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sa’diy, Tafsir Ar Rahman fii Tafsiir Al Mannaa, Daar Ihda’ al Mujtama’I, Saudi Arabia, 1416, hal.494

[11] Muhammad Ar Razi Fakhruddin bin Al Allaamah Dhiyauddiin Umar, Tafsir Al Fakhr ar Raziy, Daarul Fikr, Libanon, jil. 16, hal.192, tahun 1995

[12] Kementerian Agama RI, Tafsir Ilmi; Penciptaan Jagat Raya dalam Persfektif Al Qur’an dan Sains, PT. Sinergi Pustaka Indonesia, 2012, hal. 91

[13] Slamet Prawirohartono, dkk, Ilmu Pengetahuan Alam terpadu SMP/Mts kelas IX, Bumi Aksara, 2007, hal. 351-354

[14] Kementerian Agama RI; Badan Litbang dan Diklat, Tafsir Ilmi, Waktu dalam Perspektif Al Qur’an dan Sains, Lajnah Pentashih Pentashih Mushaf Al Qur’an, Cetakan Pertama, tahun 2013, Jakarta, hai. 25

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *